MAKASSAR, TALINEWS.COM — Pemerintah Kota Makassar memperkuat upaya penanggulangan Tuberkulosis (TBC) melalui gerakan tracing secara masif yang terintegrasi dengan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Program tersebut menyasar 339 titik di seluruh wilayah Kota Makassar sebagai langkah mempercepat penemuan kasus sekaligus memutus rantai penularan.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mengatakan tracing TBC harus dilakukan secara serius dan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Menurutnya, setiap warga yang terindikasi harus segera mendapatkan pemeriksaan dan penanganan agar potensi penularan di lingkungan keluarga maupun masyarakat dapat ditekan.
“Semua ini akan kita lakukan serentak di 339 titik yang ada di Kota Makassar. Di setiap titik itu ada 100 yang akan ditracing,” kata Munafri saat melaunching gerakan tersebut di Kantor Kelurahan Antang, Kecamatan Manggala, Selasa (11/8/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Munafri menilai penanganan TBC membutuhkan keterlibatan seluruh unsur pemerintahan hingga tingkat kecamatan, kelurahan, RT dan RW. Ia meminta jajaran kewilayahan aktif melakukan sosialisasi dan mengajak masyarakat tidak takut maupun malu menjalani pemeriksaan karena TBC merupakan penyakit yang dapat disembuhkan apabila ditangani dengan tepat.
“Jangan takut dan jangan malu, TBC ini bukan aib, ini penyakit yang bisa disembuhkan. Tapi kalau Bapak-Ibu menyembunyikan penyakitnya, tidak akan pernah terselesaikan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, dr. Nursaidah Sirajuddin, mengatakan penguatan tracing dilakukan karena masih terdapat sejumlah indikator penanggulangan TBC yang perlu ditingkatkan. Pada 2026, target penemuan terduga TBC sebanyak 48.763 orang, sementara hingga evaluasi berjalan baru mencapai 27.851 orang atau 57,11 persen.
Untuk kasus TBC terkonfirmasi, target tahun 2026 mencapai 9.030 kasus dengan realisasi 5.556 kasus atau 61,53 persen. Sementara capaian keberhasilan pengobatan telah mencapai 4.578 pasien atau 82,40 persen, meski masih perlu ditingkatkan agar mencapai standar nasional minimal 90 persen.
Nursaidah menambahkan, salah satu persoalan yang menjadi perhatian utama adalah rendahnya pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kontak serumah. Dari target 72.240 kontak serumah, baru 516 orang atau sekitar 0,71 persen yang telah mendapatkan terapi pencegahan.
Karena itu, Dinkes Makassar akan memperkuat investigasi kontak di seluruh puskesmas dengan melibatkan kader kesehatan, komunitas, klinik, rumah sakit, serta fasilitas pelayanan kesehatan swasta. Skrining aktif juga akan diperluas ke kawasan padat penduduk, tempat kerja, lapas atau rutan, serta kelompok rentan seperti lansia, penyandang diabetes melitus dan kelompok dengan HIV.
“Ini yang perlu perhatian kita semua terkait dengan terapi pencegahan tuberkulosis,” ujar Nursaidah.
Pemkot Makassar berharap gerakan tracing yang berlangsung hingga November 2026 tersebut mampu meningkatkan penemuan kasus secara dini, memperluas akses pemeriksaan, serta mendorong pasien menyelesaikan pengobatan. Seluruh layanan tracing dan pemeriksaan dalam program tersebut diberikan tanpa biaya kepada masyarakat.










