MAKASSAR, TALINEWS.COM — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Makassar turut mendorong penguatan edukasi kepada masyarakat terkait pemilahan sampah dari rumah sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang sehat dan mencegah berbagai persoalan kesehatan yang dapat muncul akibat pengelolaan sampah yang tidak tepat.
Kebijakan Pemerintah Kota Makassar yang mulai mengarahkan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa hanya menerima sampah residu dinilai menjadi momentum untuk memperkuat perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya.
Sampah organik, anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi, dan residu perlu dipisahkan agar masing-masing dapat dikelola sesuai karakteristiknya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Peneliti Municipal Solid Waste Management sekaligus Dewan Lingkungan, Marini Ambo Wellang, mengatakan persoalan sampah memiliki keterkaitan erat dengan kesehatan masyarakat. Karena itu, perubahan pola pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, termasuk sektor kesehatan.
“Persoalan sampah ini tidak bisa hanya diurus oleh pemerintah. Kita juga adalah penghasil sampah, maka kita juga harus bertanggung jawab dengan sampah kita,” ujarnya, Kamis (30/7/2026).
Menurut Marini, pemilahan sederhana dari rumah menjadi langkah awal yang dapat dilakukan seluruh masyarakat. Setidaknya sampah dipisahkan menjadi tiga kelompok, yakni organik, anorganik bernilai, dan residu.
Langkah tersebut tidak hanya membantu mengurangi beban TPA, tetapi juga dapat menjaga kebersihan lingkungan permukiman yang pada akhirnya berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Sampah organik seperti sisa makanan, sayuran, daun dan material mudah terurai dapat diolah menjadi kompos maupun bahan untuk budidaya maggot. Sementara botol plastik, kardus, kaleng, kaca dan material lain yang masih memiliki nilai ekonomi dapat disalurkan melalui bank sampah.
Adapun sampah yang sudah tidak memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi menjadi residu yang diarahkan ke TPA.
Marini menilai, edukasi mengenai pemilahan sampah perlu dilakukan secara masif dan melibatkan berbagai perangkat pemerintah. Tidak hanya Dinas Lingkungan Hidup, tetapi juga Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, organisasi masyarakat, sekolah, perguruan tinggi, hingga kelompok perempuan.
“Kami berharap tidak hanya DLH saja yang melakukan itu, tetapi semua elemen pemerintah, masyarakat, swasta, sekolah, universitas, juga ikut terlibat dalam edukasi ini,” katanya.
Ia secara khusus menyebut tenaga penyuluh di berbagai instansi dapat mengambil peran dalam menyampaikan edukasi mengenai pengelolaan sampah kepada masyarakat.
Termasuk tenaga kesehatan dan penyuluh kesehatan lingkungan yang memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat.
Menurutnya, edukasi pemilahan sampah dapat menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa kebersihan lingkungan merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga kualitas hidup masyarakat.
Selain berdampak terhadap kebersihan kota, pengelolaan sampah yang baik juga dapat mengurangi potensi munculnya lingkungan yang menjadi tempat berkembang biaknya berbagai vektor penyakit.
Karena itu, masyarakat diminta tidak menunggu sistem pengelolaan sampah menjadi sempurna untuk mulai melakukan perubahan.
“Kalau kita diminta memilah, yuk kita pilah sampahnya,” ajak Marini.
Ia menambahkan, masyarakat juga tidak harus membeli tempat sampah khusus dengan bentuk dan warna tertentu. Wadah yang tersedia di rumah dapat digunakan selama mampu memisahkan masing-masing jenis sampah.
Untuk sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi, masyarakat dapat memanfaatkan bank sampah yang tersedia di lingkungan sekitar.
Sementara itu, penguatan edukasi di tingkat RT dan RW dinilai penting karena perubahan perilaku masyarakat membutuhkan pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dengan jumlah RT dan RW yang mencapai lebih dari 6.000, keterlibatan perangkat kewilayahan dinilai dapat memperluas jangkauan sosialisasi kepada masyarakat.
Marini juga mengapresiasi keterlibatan Tim Penggerak PKK dalam gerakan pengelolaan sampah. Menurutnya, organisasi perempuan memiliki posisi strategis karena perubahan kebiasaan pengelolaan sampah dapat dimulai dari lingkungan keluarga.
Ia berharap edukasi tidak hanya dilakukan melalui pertemuan tatap muka, tetapi juga memanfaatkan media sosial dan platform digital agar pesan mengenai pemilahan sampah dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
“Memang banyak masyarakat yang menganggap bahwa edukasi itu harusnya lewat tatap muka. Kita berharap semua platform sosial media juga bisa dimanfaatkan dalam edukasi ini,” tuturnya.
Dengan kolaborasi lintas sektor, termasuk Dinas Kesehatan Kota Makassar, edukasi pengelolaan sampah diharapkan tidak hanya berdampak terhadap pengurangan sampah yang masuk ke TPA Tamangapa, tetapi juga mendukung terciptanya lingkungan permukiman yang lebih bersih, sehat dan nyaman.
Perubahan tersebut dinilai harus dimulai dari kebiasaan sederhana di tingkat rumah tangga.
“Tidak ada yang benar-benar siap, yang ada adalah dijalankan, dilakukan,” pungkasnya.










